Pengakuan Pariyem

Pengakuan Pariyem Pariyem nama saya Lahir di Wonosari Gunung Kidul Pulau Jawa Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta Umur saya tahun sekarang tapi nuwun sewu tanggal lahir saya lupa Tapi saya ingat betul weton

  • Title: Pengakuan Pariyem
  • Author: Linus Suryadi
  • ISBN: null
  • Page: 112
  • Format: Paperback
  • Pariyem, nama saya Lahir di Wonosari Gunung Kidul Pulau Jawa Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta Umur saya 25 tahun sekarang tapi nuwun sewu tanggal lahir saya lupa Tapi saya ingat betul weton saya Wukunya Kuningan di bawah lindungan bethara Indra Jumat Wage waktunya ketika hari bangun fajar.Pengakuan Pariyem adalah prosa liris pertaPariyem, nama saya Lahir di Wonosari Gunung Kidul Pulau Jawa Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta Umur saya 25 tahun sekarang tapi nuwun sewu tanggal lahir saya lupa Tapi saya ingat betul weton saya Wukunya Kuningan di bawah lindungan bethara Indra Jumat Wage waktunya ketika hari bangun fajar.Pengakuan Pariyem adalah prosa liris pertama yang lahir dari tangan Linus Suryadi Ag dan menjadi inspirasi bagaimana kebudayaan Jawa masuk ke dalam khazanah sastra Indonesia modern.

    One thought on “Pengakuan Pariyem”

    1. Ya, ya, Pariyem sayaMaria Magdalena Pariyem lengkapnya"Iyem" panggilam sehari-haridari Wonosari Gunung Kidulsebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentonodi nDalem Suryamentaraman NgayogyakartaRasa dosa tidak saya kenaltapi rasa malu saya tebalSemuanya kembali pada manusianya, bagaimana dia menjalani hidup dan menghadapinya hingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang diingini. Bahkan bisa mencapai tingkat kebijaksanaanm benar-benar mengagumkan. Dibuku ini Linus menggambarkan Pariyem, nDoro Kanjeng dan n [...]

    2. Ya, ya, Irwan sayaKisah Pariyem saya bacaSaya baca kisah PariyemAda nyata, ada wicaksanaDalam rangkai kata sederhanaSentuhan lembut atas realitaTanpa gempita histeria retorikaTanpa tedeng gusar normaYa, ya, Irwan sayaDaya ungkap Pariyem ingatkan sayaAkan mengalirnya laku hidupTanpa sendatan waswas nir maknaRitme hidup Pariyem ingatkan sayaAkan detak harmoni sederhanaYang tak lagi banyak tersisaDi dunia serba gesaSerba gesa dunia iniYa, ya, Pariyem berujarBetapa sederhana sebuah kebahagiaanBetapa [...]

    3. Bicara tentang orang jawa dan falsafah feodalnya ya saya tidak bisa lepas dari ironi. Dibalik keterbatasan selalu ada keluasan, dibalik keagungan selalu ada kebusukan. Dibalik kerendahan hati priyayi, ternyata tetap ada kesombongan. Salah satu contohnya adalah tidak berubahnya status Pariyem yang tetap menjadi babu, meskipun telah memberikan cucu bagi keluarga ndoro Kanjeng. Pak Linus bercerita sangat gamblang dan seolah-olah "menelanjangi" orang Jawa sendiri. Tapi jika seluruh manusia bertingka [...]

    4. Dah beberapa hari belakangan sebenernya ini sering dibawa-bawa. Sampe ke P. Onroost segala. Udah sampe ke tengah halaman (halaman 150<).Mengambil sudut pandang seorang Pariyem, dunia jawa menjadi semakin "unik." Terbayang "pluralisme moralitas" seperti yang pernah diungkapkan dalam buku "Mithology Jawa" Ben Anderson. Sehingga dalam kacamata Pariyem ia tidak melihatnya dalam sebuah ketunggalan derajat manusia, tetapi dalam sudut pandang "pantes." Begitu barangkali ketika Pariyem menolak menggu [...]

    5. Kisah yg dituturkan dengan sederhana, penuh keluguan namun penuh filosofi, terutama filosofi kejawen tentang agama (orang Jawa tidak mengenal dosa, tapi rasa malunya tebal).Buat yg orang Jawa juga sedikit berfungsi sebagai nostalgia (terutama tembang-tembangnya, kangen jaman-jaman sekolah dulu pas masih aktif ikut karawitan). Buat yg bukan orang Jawa tenang saja, masih bisa menikmatinya, soalnya tutur bahasanya menarik dalam bentuk prosa berbahasa Indonesia (meski ada jowo-jowone sedikit, tapi a [...]

    6. ya ya, sancaka nama saya sancaka pagi lengkapnya dari ndalem stasiyun ngayogjakarta hadiningrat yang maos ulang pengakuan pariyem yang bikin marem sampe merem waktu sekolah dibacakan ceritanya di depan kelas oleh bapak guru bahasa indonesia bapak guru maos dengan menghayati, rencang2 kelas malah angop pas bagian yang saru2 itu lho, langsung padha ngoooookk

    7. "Ya, ya, Pariyem sayaMaria Magdalena Pariyem lengkapnyaIyem, panggilan sehari-harinyaDari Wonosari Gunung Kidul"Pengakuan sederhana dari seorang wanita Jawa, yang bekerja dengan penuh pengabdian. Tanpa tuntutan, tanpa berharap balasan. Bahkan ketika dia hamil karena perbuatan anak majikannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak ada tuntutan untuk diakui sebagai menantu atau selir, atau apapun. Yang ada hanya pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Besides, itu memang dilakukan atas [...]

    8. Butuh waktu tiga tahun bagi Linus untuk memulis semuanya dengan lengkap dan terperinci. Tak lupa Linus berbicara tentang detail, seperti lokasi biskop, riuhnya Mauludan Sekaten, situasi ruman Ndalem Suryomentaraman, gerak-gerik tuannya ketika berbicara sampai persetubuhan percintaan Pariyem yang dilukiskan dengan indahnya. Sebuah karya yang melukiskan suasana jawa yang rukun, tapi dalam prakteknya penuh konflik. Jawa yang hidup dengan batin, tetapi dalam praksisnya berhadapan dengan dunia yang p [...]

    9. Pariyem pada prosa ini adalah gambaran orang jawa pada jamannya, seorang penganut mistik kejawen meskipun dalam KTP nya tercantum agama resmi yang diakui negara. Maka mengalirlah pengakuan Pariyem yang memberi gambaran bagi kita tentang bagaimana cara pandang orang jawa dalam berbagai segi kehidupan. Dari soal agama sampai soal dosa Dari soal wayang sampai soal sikap kebangsawanannya. Dari soal falsafah hidup sampai soal seks. Semuanya diungkapkan tanpa lugas. Beberapa adegan sex dalam karya ini [...]

    10. Saya kembali membaca ini dalam perjalanan Blora-Surabaya. Dan tetap memesona seperti saya dulu membaca hampir 8 tahun lalu, saat masih SMA. Ketulusan Pariyem sebagai babu yang menyerahkan segala yang dimiliki even diri dan tubuhnya kepada juragan dan tuannya. Meski ini seperti puisi prosa, tapi tetap mengandung alur yang menarik untuk diikuti. Apalagi kalimat-kalimat berisikan wejangan ala Jawa cukup menohok. Dan terima kasih Pariyem, berkat bukumu ini ada seorang pedangan BH di Alun-alun Juwana [...]

    11. pertama kali baca buku ini tahun 2003 an lah, awal kuliah. dan sampai saat ini merupakan buku terbaik yang pernah saya baca. bijak dan satire disaat bersamaan, berat dan ringan saling memangku. bagi yang sempit ya sempit, bagi yang luas, sangat luas. "saya rasa rasa, saya pikir pikir hidup tak perlu dirasa dan tak perlu dipikir"barong wardhana

    12. This book was controversial in its era. Because sublime message about gender, patriarch, and abuse of power in Javanese system. Wrote in poem rather traditional novel, Pengakuan Pariyem brought unconventional way of writing. Rich in culture, self dialogue that piece the story together. It's subtle yet meaningful, just like an ordinary Javanese woman.

    13. satu lagi buku tak selesai padahal aku menikmatinya. Sepertinya karena ini buku pinjaman dan si empunya sudah memintanya

    14. hihihiessions no1 kalo kata afgan judulnya.hehehngakuan lucu dan jenaka seorang gadis desa yang jadi PRT di rumah seorang priyayigelitik.kali baca maunya teruss aja males brenti

    15. Pengakuan Pariyem adalah prosa lirik yang ditulis oleh Linus Suryadi AG, seorang Jawa yang bangga terhadap Jawa-nya. Pada bagian akhir prosa lirik ini, dituliskan bahwa Linus Suryadi sering bicara “lha bagaimana lagi?” kala menghadapi situasi menyedihkan atau menyusahkan. Kalimat tanya ini khas miliknya yang menggambarkan sikap tangguh yang tersimpan dalam kepasrahan ala Jawa. Seperti juga Pariyem yang seringkali berucap, “Saya lega lila”.Membaca prosa lirik ini membuat saya teringat pad [...]

    16. Pengakuan Periyem berkisah seputar PRT (pembantu rumah tangga) asal Wonosari Gunungkidul yang terlahir dari pasangan seorang seniman pemain kethoprak dan sinden wayang kulit, sejak kecil telah akrab dengan kesenian Jawa membuat jati diri Pariyem menjadi seorang perempuan yang nJawani lahir maupun batin. Pariyem mengaku lupa tanggal lahirnya namun ia ingat betul akan wetonnya, yaitu Wukunya Kuningan, dibawah perlindungan Bathara Indra, Jumat Wage waktunya ketika hari bangun Fajar. Menginjak umur [...]

    17. Baca buku ini rasanya seperti masuk ke cafe kecil yang agak oldies tapi charming. Saya pas lagi jalan2 di toko buku dan tertarik lihat sampul wanita berkemben. Karena memang seneng baca buku yang kental dengan sejarah dan budaya, saya iseng buka-buka, dan ihkok lucu, kata-katanya pendek2 seperti puisi tapi gak ada aturan ketat seperti puisi, jadi seperti semi-prosa gituYang membuat saya memutuskan beli adalah halaman 14Tapi dalam kartu penduduk oleh Pak Lurah dituliskansaya beragama KatolikMeman [...]

    18. Lirikmu seolah sederhana sajatapi siapa duga nyentil geliLubuk paling dalam merasa sendiribagian luarnya bergemetaranAnda memang sudah tiga dalam hal-hal sehari-haridari jagad hidup,lelaki wanodya,perwayanganPariyem,memang kamu bukan Magdalenakamu lebih suka tetap menjadi IyemPembantu di dalem Cokrosentonomerangsuk batin,mereguk ilmu seorang priyayiSampai-sampai keblasuk dalam lubang asmara relabermain senggama dengan anak lelaki sulungnyasiang,malam,sampai tak terhitungDan tanpa sadar melebur m [...]

    19. Hmm Mau kasih review apa ya Ini prosa liris yg pertama saya baca. Nyastra, sarat dengan pitutur tentang hidup, setting-nya mengalir dan Ngayogyakarta banget. Pun karena prosa, buku ini diketik (literally) berbeda dengan buku-buku lain pada umumnya. Nggak ada tanda baca titik sama sekali di akhir kalimat, ini yg bikin saya ngos-ngosan sepanjang membacanya. HahahahaKetimbang ceritanya, saya lebih tertarik dengan lampiran di halaman belakang buku. Sudah ya, nggak bisa bikin review panjang-panjang. [...]

    20. Setahun yang lalu, saya meminjam buku ini dari salah satu seraper yaitu Mbak Dew :DAwal-awal baca buku ini, membosankan karena memang cerita di buku ini berupa sajak-sajak yang terkadang melelahkan untuk dibaca (menurut saya). Namun, selang setengah tahun berlalu, saya mencoba kembali membaca buku ini dan hasilnya, dalam kurun waktu dua jam, saya bisa menyelesaikannya. *sekarang saya mikir, kenapa dulu saya gak bisa menyelesaikannya dengan cepat ya :/*Yah, abaikan setahun yang lalu.Dunia Batin s [...]

    21. #2011-42Perempuan jawa itu, ndukLihat sampul depannya. Seorang perempuan Jawa masa lalu dengan tubuh molek dan sintal, memakai kemben dan kain jarik, bersimpuh seperti layaknya abdi emban. Tolok ukur kecantikan beberapa dekade silam.Pariyem, babu pada keluarga bangsawan Jawa, yang ikhlas sebagai abdi dalem, menyuarakan ceritanya seperti dongeng pengantar tidur. Cerita dari dirinya sendiri, sampai cerita tentang kehidupan di luar sana. ”Berapa lama beban saya tanggungyang membelit pundak dan pu [...]

    22. Jujur saja, pertama kali saya sangat takut untuk memulai membaca buku ini. Seorang teman di waktu SMP menyatakan bahwa membaca Pengakuan Pariyem sama beratnya dengan membaca Alkitab. Ibunda mengatakan bahwa membaca Pariyem cukup berat untuk seorang anak SMP. Kata-katanya kasar tetapi kesan yang ditimbulkannya sangat indah. Barulah pada waktu SMA, saya berani mengambil buku ini dari rak buku di perpustakaan pribadi di rumah dan mulai membukanya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap bu [...]

    23. Sejak sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai satu-satunya bahasa persatuan. Meskipun pada kenyataanya, bahasa Indonesia sendiri tidak satu. Di dalamnya terdapat pencampuradukan berbagai kosakata dan konsep-konsep yang dipinjam dari berbagai etnis di Indonesia dan budaya bangsa lain. Kedatangan bangsa-bangsa lain ke nusantara dan sejarah panjang kolonialisme punya peran yang tidak sedikit atas persoalan ini. Kenyataan ini seperti menyetujui yang dikatakan [...]

    24. Bagian yang paling berkesan dari Pariyem ini ketika Pariyem dengan sadar dan seutuhnya memilih menyerahkan diri, berbahagia, dan berbangga diri karena berhasil "memerawani" Den Bagus. Dia berhasil menaikan harkat derajatnya dari hanya seorang babu dengan mengandung anak dari seorang ningrat. Kendati cara bertuturnya kurang nikmat karena banyak bahasa Jawa dan repetisi membosankan, bentuk yang dipakai Linus dalam menulis mengingatkan pada syair-syair masa lalu yang berkisah atau pada karya ini ke [...]

    25. 4/5*(Saya merating buku ini sejak sebelum membaca bukunya alias hanya membaca review teman-teman)Membaca buku ini mengingatkan saya pada Rasus dan Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruknya Ahmad Thohari. Dalam buku ini, jelas sekali perbedaan derajat antara priyayi di daerah Ngayogyakarta dan seorang babu (Pariyem) asal Wonosari, Gunung Kidul.Sifat Pariyem yang terlalu bodoh (karena jika seseorang bisa nrimo pandum, tidak pernah nggresah, mudah mengikhlaskan sesuatu begitu saja: itu namanya bodoh, k [...]

    26. membaca Pariyem ini setelah membaca Firdaus (perempuan di titik nol). Buku ini pinjam teman, cetakan ke-2 tahun 1984 penerbitnya sinar harapan. berhubung pinjam jadi bacanya ngebut, udah gitu kertas2nya udah berwarna kuning dan membuat saya bersin2, jadi saya gak tahan lama2 bacanya makanya langsung dihabisin hari minggu kemarin itu :Dberkisah tentang Pariyem, seorang babu yang berasal dari desa Wonosari, yang mengabdikan dirinya pada nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Ngayogy [...]

    27. Buku yang bercerita tentang kehidupan pembantu rumah tangga yang dikungkung oleh alam feodalisme Jawa. Pengabdian seorang pelayan untuk bendoro atau tuannya yang begitu utuh dan total. Sikap kehidupan yang pasrah sumarah membuat Pariyem mampu menghadapi kehidupan yang getir. Orang kota yang materialis individualis sehingga sering dilanda stress perlu belajar ilmu kehidupan dari seorang Pariyem Bahasa yang ringan dan penuh humor satiris membuat buku ini sangat nikmat dibaca. Menurutku buku ini me [...]

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *